Wednesday, August 27, 2014

KERUGIAN NEGARA DAN KESEJAHTERAAN RAKYAT



Akhir-akhir ini rakyat Indonesia lebih banyak mengabiskan waktunya untuk nongkrong di POM bensi, ko sekarang tempat nongkrong ada yang baru ya. Tidak siang panas-panasan maupun malam berdingin-dinginan. Semua hanya punya satu tujuan yaitu ngantri untuk mendapatkan jatah bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi premium.
Alasannya adalah kekwatiran dari masyarakat akan habisnya stok BBM seperti yang diberitakan dihampir seluruh stasiun tv yang mengatakan pemerintah akan membatasi stok BBM dan menaikkan harganya.
Secara perhitungan dari pemerintah bahwa dengan begitu tingginya animo masyarakat untuk mendapatkan BBM maka akan meningkat pula penggunaan BBM bersubsidi dan berakibat pada membekaknya subsidi terhadap BBM dan ini dinilai tidak begitu produktif dan efisien.
Keinginan pemerintah jelas bahwa dengan makin meningkatkan angka subsudi akan berdampak buruk bagi APBN dan negara makin krisis dengan begitu banyaknya hutang. Sehingga langkah terbaik buat pemerintah adalah dengan menaiki harga premium menjadi 8.500 rupiah perliter.
Lalu bagaimana dengan kesejahteraan rakyat Indonesia, rakyat yang termasuk dalam kelas menengah kebawah dan bagi usaha kecil menengah, dan bagi para petani dan terutama para nelayan yang mobilitas aktifitas mereka selalu menggunakan BBM bersubsidi itupun masih terlalu mahal bagi mereka, karena dengan begitu tinggi tingkat resiko keselamatan dan berkurangnya tangkapan dan keuntungan yang didapat akan terasa berat hidup ini dijalani.
Mana yang pemerintah lihat apakah kerugian negara atau kesejahteraan rakyatnya, manakah yang lebih penting akan semua ini?
Dimana posisi negara saat ini apakah mendukung dan berpihak pada rakyat atau malah melawan dan membuat rakyat lebih menderita?
Kita tunggu saja keputusannya nanti tanggal 1 september langkah apa yang akan diambil oleh PEMERINTAH.

Tuesday, April 29, 2014

Pendidikan Anak dalam Islam

Pendidikan Anak dalam Islam

Muqadimah

Sebagai sebuah sistem nilai yang sempuna, Islam mempunyai sebuah paradigma dalam menilai kesuksesan, yang khas dan tidak bisa dipahami kecuali dengan kelengkapan pemahaman dari sub-sistem nilai Islam yang lain, yaitu misalnya dari Aqidah Islamiyah.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (Q.S. 3 : 185).
Dari ayat di atas, dapat kita tarik pemahaman bahwa:
Hal yang dimaksud dengan “sukses” dalam paradigma Al-Qur’an adalah dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.
Kehidupan dunia hanyalah suatu keadaan fana (sementara), sedangkan penyempurnaan pahala hanya terjadi di akhirat.
Paradigma Islam tentang sukses tidak terlepas dari masalah keimanan pada hari akhir (kiamat).

Tahapan Pendidikan Anak

Pendidikan anak dalam Islam, sebagaimana dikatakan Imam Ali bin Abi Thalib as, dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu :
  • Tahap BERMAIN (la-ibuhum = ajaklah mereka bermain), dari mulai lahir s.d. umur tujuh tahun.
  • Tahap PENANAMAN ADAB & DISIPLIN (addibuhum = ajarilah mereka adab), dari usia 7 hingga 14 tahun.
  • Tahap PERSAHABATAN (roofiquhum = jadikanlah mereka sahabat), mulai 14 tahun ke atas.
Ketiga tahapan pendidikan di atas, masing-masing memiliki karakteristik pendekatan yang berbeda, sesuai dengan perkembangan kepribadian dan akal anak yang sehat.
Ketika usia di bawah tujuh tahun, anak masih sarat dengan dominasi dorongan untuk bermain. Setelah usia tujuh tahun, anak sudah dapat diajarkan disiplin. Sedangkan pada usia baligh (kematangan seksual yang ditandai dengan haid pada perempuan atau mimpi basah pada laki-laki), anak sudah dapat diajak berdiskusi dan bersahabat seolah “semitra” dengan orang tua. Pada masa ini diharapkan perkembangan kepribadian dan akal anak sudah cukup matang untuk dapat mempunyai sikap dan pendapat sendiri sehingga patutlah jika mulai dilibatkan dalam musyawarah.
Jika ingin dielaborasi lebih jauh, dapat kita sebutkan bahwa tahap 1 adalah Tahap Persiapan / Pengantar, tahap 2 adalah Tahap Penanaman Nilai-nilai Baku, dan tahap 3 adalah Tahap Pemantapan Nilai.

Metode Pendidikan Islami

Metode pendidikan dalam Islam secara garis besar terdiri dari lima macam, yaitu :
  • Keteladanan.
  • Pembiasaan.
  • Nasihat / Pengarahan.
  • Mekanisme kontrol / Pengawasan.
  • Rewards and Punishment.
Perlu diperhatikan bahwa dalam menerapkannya tidak boleh meninggalkan satupun dari kelima metode di atas, meskipun porsinya berbeda-beda.
Kandungan dari Pendidikan Islami setidaknya ada tujuh hal, yaitu :
  • Aqidah / Keimanan.
  • Akhlaq.
  • Fikroh / Pemikiran.
  • Fisik.
  • Sosial.
  • Kejiwaan / Kepribadian.
  • Seksual.

Tujuan Pendidikan Islami

Tujuan Pendidikan Islami dapat dirinci menjadi 10 poin, yaitu :
  • Selamat aqidahnya.
  • Benar ibadahnya.
  • Karim (baik) akhlaqnya.
  • Mampu berpenghasilan / menghidupi diri dan keluarga.
  • Jernih fikrohnya (pemahamannya).
  • Kuat jasmaninya.
  • Mampu melawan hawa nafsu pribadi.
  • Teratur urusannya.
  • Mampu menjaga waktu.
  • Berguna bagi orang lain.
Pendidikan anak dalam Islam pada dasarnya harus menghasilkan pribadi-pribadi muslim yang tangguh, kuat, cerdas dan bertaqwa.

Hubungan Ilmu dan Amal

Dalam sebuah ayat al-Quran dikatakan, “Dan janganlah engkau turut apa-apa yang engkau tidak ada ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan ditanya,” (QS. Al-Isra:36). Ayat al-Quran tersebut menjelaskan bahwa ilmu merupakan dasar dari segala tindakan manusia. Karena tanpa ilmu segala tindakan manusia menjadi tidak terarah, tidak benar dan tidak bertujuan.
Kata ilmu berasal dari kata kerja ‘alima, yang berarti memperoleh hakikat ilmu, mengetahui, dan yakin. Ilmu, yang dalam bentuk jamaknya adalah ‘ulum, artinya ialah memahami sesuatu dengan hakikatnya, dan itu berarti keyakinan dan pengetahuan. Jadi ilmu merupakan aspek teoritis dari pengetahuan. Dengan pengetahuan inilah manusia melakukan perbuatan amalnya. Jika manusia mempunyai ilmu tapi miskin amalnya maka ilmu tersebut menjadi sia-sia.
Dalam beberapa riwayat  di jelaskan tentang hubungan ilmu dan amal itu. Imam Ali as berkata, “Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikutnya.” Demikian juga dengan perkataan Rasulullah saw  , “Barangsiapa beramal tanpa ilmu maka apa yang dirusaknya jauh lebih banyak dibandingkan yang diperbaikinya.” Pada riwayat lain dijelakan Imam Ali as berkata, “Ilmu diiringi dengan perbuatan. Barangsiapa berilmu maka dia harus berbuat. Ilmu memanggil perbuatan. Jika dia menjawabnya maka ilmu tetap bersamanya, namun jika tidak maka ilmu pergi darinya.”
Dari riwayat di atas maka jika orang itu berilmu maka ia harus diiringi dengan amal. Amal ini akan mempunyai nilai jika dilandasi dengan ilmu, begitu juga dengan ilmu akan mempunyai nilai atau makna jika diiringi dengan amal. Keduanya tidak dapat dipisahkan dalam perilaku manusia. Sebuah perpaduan yang saling melengkapi dalam kehidupan manusia, yaitu setelah berilmu lalu beramal.
Pengertian amal dalam pandangan Islam adalah setiap amal saleh, atau setiap perbuatan kebajikan yang diridhai oleh Allah SWT. Dengan demikian, amal dalam Islam tidak hanya terbatas pada ibadah, sebagaimana ilmu dalam Islam tidak hanya terbatas pada ilmu fikih dan hukum-hukum agama. Ilmu dalam dalam ini mencakup semua yang bermanfaat bagi manusia seperti meliputi ilmu agama, ilmu alam, ilmu sosial dan lain-lain. Ilmu-ilmu ini jika dikembangkan dengan benar dan baik maka memberikan dampak yang positif bagi peradaban manusia. Misalnya pengembangan sains akan memberikan kemudahan dalam lapangan praktis manusia. Demikian juga pengembangan ilmu-ilmu sosial akan memberikan solusi untuk pemecahan masalah-masalah di masyarakat.
Jadi mengiringi ilmu dengan amal merupakan keharusan. Dalam pandangan Khalil al-Musawi dalam buku Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana, hubungan ilmu dengan amal dapat difokuskan pada dua hal:
Pertama, ilmu adalah pemimpin dan pembimbing amal perbuatan. Amal bisa lurus dan berkembang bila didasari ilmu. Berbuat tanpa didasari pengetahuan tidak ubahnya dengan berjalan bukan di jalan yang benar, tidak mendekatkan kepada tujuan melainkan menjauhkan.  Dalam semua aspek kegiatan manusia harus disertai dengan ilmu, baik itu yang berupa  amal ibadah maupun amal perbuatan lainnya.
Dalam ibadah harus disertai dengan ilmu. Jika ada orang yang melakukan ibadah tanpa didasari ilmu tidak ubahnya dengan orang yang mendirikan bangunan di tengah malam dan kemudian menghancurkannya di siang hari. Begitu juga, hal ini pun berlaku pada amal perbuatan yang lain, dalam berbagai bidang. Memimpin sebuah negara, misalnya, harus dengan ilmu. Negara yang dipimpin oleh orang bodoh akan dilanda kekacauan dan kehancuran.
Kedua, sesungguhnya ilmu dan amal saling beriringan. Barangsiapa berilmu maka dia harus berbuat, baik itu ilmu yang berhubungan dengan masalah ibadah maupun ilmu-ilmu yang lain. Tidak ada faedahnya ilmu yang tidak diamalkan. Amal merupakan buah dari ilmu, jika ada orang yang mempunyai ilmu tapi tidak beramal maka seperti pohon yang tidak menghasilkan manfaat bagi penanamnya.
Begitu pula, tidak ada manfaatnya ilmu fikih yang dimiliki seorang fakih jika dia tidak mengubahnya menjadi perbuatan. Begitu juga, tidak ada faedahnya teori-teori atau penemuan-penemuan yang ditemukan seorang ilmuwan jika tidak diubah menjadi perbuatan nyata. Karena wujud dari pengetahuan itu adalah amal dan karya nyatanya.
Ilmu tanpa diiringi dengan amal maka hanya berupa konsep-konsep saja. Ilmu yang tidak dilanjutkan dengan perbuatan, mungkin kita dapat menyebutnya sebagai pengetahuan teoritis. Namun, apa faedahnya ilmu teoritis jika kita tidak menerjemahkannya ke dalam ilmu praktis, dan kemudian meneruskannya menjadi perbuatan yang mendatangkan hasil?
Jika ilmu tidak diimplementasikan maka akan memberikan dampak yang negatif. Salah-satu penyakit sosial yang paling berbahaya yang melanda berbagai umat – termasuk umat Islam – adalah penyakit pemutusan ilmu-khususnya ilmu-ilmu agama –dari amal perbuatan, dan berubahnya ilmu menjadi sekumpulan teori belaka yang jauh dari kenyataan dan penerapan. Padahal, kaedah Islam menekankan bahwa ilmu senantiasa menyeru kepada amal perbuatan. Keduanya tidak ubahnya sebagai dua benda yang senantiasa bersama dan tidak terpisah satu sama lain. Jika amal memenuhi seruan ilmu maka umat menjadi baik dan berkembang. Namun jika tidak, maka ilmu akan meninggalkan amal perbuatan, dan dia akan tetap tinggal tanpa memberikan faedah apa pun. Jika demikian nilai apa yang dimiliki seorang manusia yang mempunyai segudang teori dan pengetahuan namun tidak mempraktikkannya dalam dunia nyata.
Pertalian ilmu dengan amal tidak hanya dituntut dari para pelajar agama dan para ahli yang mendalami suatu ilmu, melainkan juga dituntut dari setiap orang, baik yang memiliki ilmu sedikit ataupun banyak. Namun, tentunya orang-orang yang berilmu memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam hal ini, karena mereka memiliki kemampuan yang lebih. Allah SWT berfirman di dalam surat Ash-Shaff, ayat (2-3), “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Sungguh besar murka Allah kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Jika kita memperhatikan ayat-ayat al-Quran, niscaya kita akan menemukan bahwa al-Quran senantiasa menggandengkan ilmu dengan amal. Makna ilmu diungkapkan dalam bentuk kata iman pada banyak tempat, dengan pengertian bahwa iman adalah ilmu atau keyakinan. Di antaranya ialah :“Demi waktu Asar, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kebajikan.” (QS. Al-‘Ashr:1-3). Dalam ayat  lain dikatakan,  “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi : 107). Demikian juga dengan ayat, “Orang-orang yang beriman  dan beramal saleh, bagi mereka kebahagian dan tempat kembali yang baik.” (QS. Ar-Ra’d :29)
Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang betapa ilmu dan amal shaleh memiliki kaitan yang erat yang tidak dapat dilepaskan satu sama lain. Karena keduanya bagai dua keping mata uang, yang saling memberi arti. Inilah yang sejalan dengan ucapan Imam Ali as, “Iman dan amal adalah dua saudara yang senantiasa beriringan dan dua sahabat yang tidak berpisah. Allah tidak akan menerima salah satu dari keduanya kecuali disertai sahabatnya.”
Dengan perspektif keterpaduan ilmu dan amal, maka akan memberikan perkembangan kearah perbaikan dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat akan berlomba-lomba dalam memberikan amal shaleh satu sama lain. Imam Ali as berkata, “Jangan sampai ilmumu menjadi kebodohan dan keyakinanmu menjadi keraguan. Jika engkau berilmu maka beramalah, dan jika engkau yakin maka majulah.” Dengan ilmu yang benar, serta amal  shaleh maka masyarakat bergerak dari kebodohan menuju kepintaran, dari ketertinggalan menuju kemajuan dan dari  kehancuran menuju kebangkitan.

Saturday, February 8, 2014

Epistemologi Ibadah

Ibadah kepada Tuhan adalah penegasan bahwa Dia Sang Maha Mutlak adalah dia yang dekat dengan kita sebagai hamba (tasbiah).
Pendekatan ini penting dalam rangka membawa semua orientasi, cita-cita, harapan kepada-Nya sebagai tujuan dari semua perjalanan ini. Secara subjektif, kebertingkatan pencapaian hubungan manusia dengan Tuhan adalah segi dinamis dari upaya manusia melakukan objektivikasi bahwa Dia Yang Maha Suci adalah realitas objektif yang disasar oleh jiwa manusia secara terus menerus melalui hubungan sosial manusia (filsafat teoritis dan praktis).

Allah SWT adalah subjek dan objek yang tetap dalam hubungan manusia dengan-Nya secara niscaya. Perjalanan subjek menuju ke objek dibentuk dalam sebuah sistem peribadatan (syariat) dalam bentuk perwujudan yang dikehendaki-Nya (fikih Islam) yang dinilai secara objektivikasi atas keniscayaan ibadah berikut bentuk peribadatannya.


Referensi ; Buku Epistemologi Ibadah, Muhammad Baqir Ash Shadra. Terbitan RausyanFikr Institute.

Friday, January 31, 2014

Aku Mencintai Mereka

Aku mencintai mereka yang tidak mencari di balik bintang alasan supaya mereka bisa menjadi korban, tapi yang mengorbankan diri mereka sendiri kepada bumi, supaya bumi Adimanusia bisa terwudud.

Aku mencintai mereka yang hidup untuk tahu dan berusaha tahu supaya Adimanusia dapat hidup. Sebab dengan demikian dia mencari jalan turunnya sendiri.

Aku mencintai dia yang bekerja dan mencipta, supaya ia dapat membangun rumah bagi Adimanusia dan mempersiapkan bumi, hewan dan tanaman untuknya: sebab dengan demikian ia mencari jalan turunnya sendiri.

Aku mencintai mereka yang mencintai kebijakan: karena kebajikan adalah kehendak untuk turun dan panah kerinduan.

Aku mencintai dia yang tidak menyimpan setitik pun jiwa untuk dirinya sendiri, tapi yang ingin sepenuhnya menjadi jiwa dari kebajikannya: berjalanlah dia seperti jiwa di atas jembatan.

Aku mencintai dia yang membuat kebajikannya menjadi turun dan kemestian: maka demi kebajikannya itu dia bersedia untuk hidup atau bersedia untuk tidak hidup.

Aku mencintai dia yang tidak menginginkan terlalu banyak kebajikan. Satu kebajikan sudah lebih bijak daripada dua kebajikan, karena kebajikan merupakan simpul tempat nasib seseorang ditambatkan.

Aku mencintai dia yang jiwanya banyak memberi bagi yang lain, yang tidak menginginkan terima kasih dan pengembalian; karena dia akan selalu memberkahi dan tidak ingin menyimpannya untuk dirinya sendiri.

Aku mencintai dia yang malu ketika dadu jatuh pada angka pilihannya dab bertanya: 'Apakah aku seorang pemain yang tidak jujur?' - karena dia bersedia mengalah. Aku mencintai dia yang meneberkan kata-kata emas di depan perbuatannya dan selalu melakukan lebih dari apa yang dijanjikan: karena dengan demikian dia mencari gerak turunnya sendiri.

Aku mencintai dia yang membenarkan mereka yang akan datang dan menembus mereka yang telah berlalu: karena ia bersedia mengalah demi mereka yang ada sekarang.

Aku mencintai dia yang menegur Tuhannya, karena dia mencintai Tuhannya, karena dia harus mengalah demi kemarahan Tuhannya.

Aku mencintai dia yang jiwannya sekalipun dalam luka, dan bersedia mengalah tentang hal-hal kecil: maka dengan senang hati dia pergi melalui jembatan.

Aku mencintai dia yang jiwannya begitu penuh sehingga dia melupakan dirinya sendiri dan segala hal yang ada pada dirinya: dengan demikian segala hal menjadi gerak turunnya.

Aku mencintai mereka, jiwa-jiwa dan hati yang bebas: sebab kepalanya menjadi tubuh dari hatinya, tapi hatinya membawanya kepada gerak turun.

Aku mencintai semua yang jatuh seperti tetes air besar satu per satu dari awan gelap yang mengambang di atas manusia: mereka mengumumkan kedatangan sang kilat dan turun menuju ke tanah sebagai pembuka jalan.

Sabda Zarathustra - Nietzsche

Wednesday, January 29, 2014

Manusia dan Agama

Dunia kita adalah dunia perubahan dan pergantian, tak ada sesuatu yang tetap didalamnya. Segalanya akan senantiasa berubah, memudar, dan setelah itu mati.

Seperti itu pulakah agama? 
Adakah kurun tertentu bagi agama sehingga, jika ia telah lewat, usia agama pun akan berakhir?Ataukah keadaannya tidak seperti itu?akankah ia tetap lestari ditengah-tengah manusia sehingga, seandainya muncul gerakan yang memerangi ataupun berusaha menghabisinya, gerakan seperti itu pasti tidak akan berhasil? Bahkan agamalah yang tetap hidup.

Agama adalah interaksi antara ada yang didalam dan diluar . Sempurnanya agama adalah bertemunya agama fitrah dan agama bentuk.

Kebutuhan-kebutuhanmanusia manusia terdiri dari dua bagian, kebutuhan- kebutuhan yang alamiah dan bukan alamiah. Kebutuhan alamiah ialah hal-hal yang berhubungan dengan sisi kemanusiaan, 
Pengetahuan, agama, keadilan, dan cinta adalah kebutuhan manusiayang sejak dahulu tertancap kuat dalam relung terdalamnya.  keinginan manusia untuk mengetahui sesuatu walaupun lelah dan waktunya habis dipakai untuk menganalisa, membaca dan berdiskusi namun manusia ingin memperoleh pengetahuan dan manusia tetap berusaha mencarinya.

Kebutuhan bukan alamiah, yakni kebiasan-kebiasan atau adat istiadat yang dilakukan oleh kebanyakan manusia tetapi mereka memiliki kemampuan untukmelepaskan diri atau menggantikannya dengan yang lain. seperti kebiasaan merokok, minuman keras dan narkoba.

Manusia tidak mungkin menghilangkan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat alamiah, kita ketahui bahwa sejarah banga-bangsa dan peradaban yang jatuh bangun bersama putaran waktu adalah bukti nyata bahwa manusia membutuhkan perangkat nilai yang tetap/absolut aga rmampu mengimplemantisikan cita-cita kesempurnaan. Jadi hubungan interaksi antara yang didalam dan diluar menghasilkan seseuatu yang tetap.


Refrensi: Manusia dan Agama, Karya Ayatullah Murtadha Muthahhari
              Fitrah, Karya Ayatullah Murtadha Muthahhari
RausyanFikr Yogyakarta.

Sunday, January 26, 2014

Arti Kemenangan

Kemarin saya baru selesai mengikuti Turnamen Futsal se-Sul-Teng ada berbagai kesan dan berbagai perasaan bercampur aduk di dalamnya. Ada tawa kemenangan ada senyum kekalahan di balut menjadi satu dan menjadikan suasana menjadi panas dingin seperti mau demam.
Dan akhirnya yang mampu sampai di puncak kemenangan adalah hanya satu tim yaitu tim yang berasal dari timur Sulawesi Tengah.

Kita bisa melihat dan membaca filosofis dari sebuah pertandingan, dimana dalam sebuah pertandingan ada berbagai macam tim yang terlibat dengan sejuta kemampuan yang bisa dikatakan diatas rata-rata. Dimana hanya tim yang kuat dan mampu menghadapi rintangan yang mampu sampai dipuncak kejayaan.

Disini ada pelajaran hidup yang sangat penting yang bisa kita ambil dalam setiap pertandingan, bagaiman kita lihat bahwa hiduppun demikian seperti sebuah pertandingan untuk mencapai puncak kejayaan. Tapi dalam kehidupan ada berbagai macam tujuan untuk mencapai puncak.

Kita bisa saja mendapatkan kesenangan dengan kemenangan hidup di dunia ini dengan segala daya dan kemampuan kita, kita gunakan untuk mendapatkan kekayaan, tapi itu tidaklah dilarang kita tidak pernah di larang untuk kaya.

Kita juga bisa menaklukan kehidupan dengan ilmu pengetahuan yang mampu mengantar kita pada satu titik kemengan untuk selalu bersama sang pemilik kekayaan ini.

Ada juga yang mengatakan dengan pilihan bijak menggabungkan keduanya dunia dan akhirat, jalan tersebut bukan hal yang mudah untuk kita lakukan kita butuh waktu yang panjang dan perjuangan yang tidak pendek untuk bisa menaklukan semua ego dan nafsu dalam diri kita.

Jadi silahkan pada saudara-saudara mana jalan yang kita pilih untuk bisa mencapai puncak kejayaan. Intinya adalah tak ada sukses, tanpa kerja keras.