Sunday, April 15, 2012

Perempuan


PEREMPUAN

Masyarakat Islam adalah masyarakat yang besar dengan berbagai tradisi, islam memandang perempuan sangat-sangat istimewa. Islam mengajarkan perempuan untuk bisa menjaga martabat dan harga diri itulah pandangan Islam yang begitu mengahargai perempuan.
Ada empat perempuan mulia di dunia pertama Fatimah Az-Zahra binti Muhammad yang merupakan anak Nabi Muhammad SAW, kedua ada Khadijah Khuwailid istri nabi Muhammaad SAW, yang ketiga Maryam binti Imran Ibunda nabi Isa AS dan keempat adalah Asiah binti Muza isteri Firaun.
Peran perempuan sekarang ini telah berubah dimana perempuan hanya dipandang sebagai mahluk seksi kecantikan luarnya dilihat untuk diperdagangkan selain itu tidak ada lagi yang bisa dibanggakan, bukannya ilmu pengetahuan yang dikembangkan.
Beta sempit peran perempuan terutama pada abad pertengahan di Eropa perempuan dilarang untuk mendapatkan pendidikan. Padahal hadist Nabi Muhammad SAW: “ Pendidikan dibutuhkan kaum Muslimin, baik laki-laki maupun perempuan. Hadist ini sangat jelas menerangkan bahwa tidak ada perbedaan untuk mendapatkan pendidikan baik laki-laki dan perempuan.
Suatu Bangsa akan maju apabila perempuan yang melahirkan anak mempunyai pengetahuan yang besar dimana dia akan mengajarkan anak-anaknya. Perempuan memang tidak bisa menjadi Nabi tapi perempuan lah yang mengarjarkan Nabi menjadi seorang Nabi.
Ada kata-kata indah yang sering kita dengar bahwa disetiap lekali hebat pasti ada perempuan hebat dibelakangnya.
Jadi beta hebatnya perempuan, untuk itu marilah kita bangun peradaban dengan pecerdaskan para perempuan untuk kemajuan umat.

Thursday, April 12, 2012


Nama   : Agung Firmansyah Lamondjong
Tugas   : Refiew Buku Daras Filsafat Islam (Yayasan RausyanFikr Yogyakarta)
Pmtri    : Ust. A.M Safwan 

PELAJARAN 15
BERBAGAI TIPE
 KONSEP UNVERSAL

A.     Rangkaian Tipe Pengertian
Konsep-konsep universal dalam ilmu intelektual terbagi menjadi tiga kelompok :
1.      Konsep-konsep kemahiyahan atau pengertian-pengertian primer, pengertian primer maksudnya disini adalah kategori pertama yang langsung mengambil saja, semua orang dengan mudah bisa mendapatkannya.
Contoh : api panas ( kita langsung mengetahuinya )
2.      Konsep-konsep Filsafat atau pengertian filsafat sekunder, seperti sebab dan akibat. Konsep ada yang tidak mempunyai penyipatan.
3.      Konsep-konsep logika atau pengertian logika sekunder, seperti metode konversi artinya konsep logika ingin mencari hubungan (relasi) subjek predikat. Konsep logika dia berhubungan dengan mahiyah karena pada saat yang sama menglogikakan sesuatu itu letaknya di alam.
Contoh : Hasan adalah manusia
            Dari contoh diatas dapat kita jelaskan Hasan itu particular diambilnya di alam sedangkan manusia konsep universal yang bisa dijadikan predikat.

B.     Ciri Khas Pengertian-pengertian
1.      Ciri khas konsep-konsep logika ialah sifatnya yang hanya bisa diterapkan pada kumpulan konsep dan bentuk dalam pikiran. Dalam konsep logika semua sebab akibat bisa diletakkan di alam. Konsep logika mencari hubungan logis antara sebab dan akibat seperti, saya kenyang karena saya makan.
2.      Ciri khas konsep kemahiyahan ialah sifatnya yang memberikan batas pada wujud, semuanya ada, dengan ada yang berbeda bentuk dalam keberadaannya ada untuk melekatkan atau menunjukkan maka sudah menjadi bagian perbagian.
3.      Ciri khas konsep filsafat ialah sifatnya yang tidak diperoleh tanpa komparasi dan analisis intelektual. Konsep filsafat tidak mempunyai konsep-konsep atau ide-ide particular.

C.     Konsep I’tibari
Menurut satu istilah semua pengertian sekunder baik yang berasal dari logika maupun filsafat disebut I’tibari. Menurut istilah lain I’tibari diperuntukan untuk konsep etika dan hukum atau sebagai konsep-konsep nilai.

D.     Konsep-konsep Etika dan Hukum
Wacana etika dan hukum terdiri atas konsep-konsep seperti harus, tidak harus, wajib, dilarang dan lain-lain yang menjadi predikat, sedangkan konsep keadilan, kezaliman, sifat amanah khianat dan semacamnya menjadi subjek.
Subjek                         Predikat

   
Etika                            Hukum
Konsep etika dan hukum tidak mempunyai contoh yang nyata oleh sebab itu konsep ini disebut I’tibari. I’tibari terbagi dua realitas luaran dan kepentingan meletakkan. Realitas luaran berkaitan dengan luar diri manusi. Seperti, pencuri atau perampok tidak melekat pada diri mereka pencuri dan perampok, pada saat kita melihat mereka kita tidak tau mereka pencuri atau bukan, berarti kata pencuri atau merampok tidak melekat pada diri orang tersebut nanti melakukannya dan ketahuan baru kita tahu dia pencuri.
Kepentingan meletakkan seperti, hp tidak merubah apapun yang ada pada hp tersebut dan pemiliknya karena, berada luar dari dirinya.
Konsep etika dan hukum menggunakan perspektif kebahasan dan kesusastraan dengan menggunakan kalimat berita (deskriptif) dan kalimat petunjuk (prescriptive).

E.      Harus dan Tidak Boleh
Harus dan tidak oleh dipakai dalam kalimat perintah dan larangan akan tetapi kita bisa menggantinya dengan kata-kata yang lain akan tetapi maknanya tidak berubah memakai kalimat dekriptif “wajib” dan preskriptif “katakanlah”.
Deskriptif munculnya nilai ada pada subjek, sedangkan prespektif lebih pada tindakannya atau predikat.

F.      Subjek-subjek Etika dan Hukum
Kita harus merujuk pada pengertian konsep, pengertian konsep yang dipakai hanya konsep filsafat dan konsep mahiyah, kenapa tidak menggunakan konsep logika, karena konsep logika hanya mental saja sedangkan yang lain strukturnya ada diluar primer dan sekunder. Yang mendasar dari mahiyah makulaawali primer sebagai mana dirinya ada penyandang dirinya.

Maaf kalau masih banyak kekurangan ini hanya tulisan mencoba rangkum tentang pelajaran 15 buku Daras Filsafat Islam untuk itu butuh saran yang baik akan mendukung perbaikan tulisan ini.. Terima kasih..
Yogyakarta,    April 2012 

Monday, March 26, 2012


Definisi dan Konsep Pemasaran

Aktivitas kehidupan kita sehari-hari selalu berhubungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan pemasaran. Dimulai dari bangun tidur, berbagaimacam produk, jasa, informasi kita dengar, lihat ataupun baca. Barang yang ada dikamar kitapun banyak sekali yang berkaitan dengan pemasaran, sabun mandi, pasta gigi, majalah, Koran, dapur, kamar mandi dan garasi.
Sebagai contoh bahwa kita hidup sudah bergantung dengan pemasaran. Pada saat kita bangun tidur oleh bunyi alaram di HP Nokia atau Blackbery, pergi cuci muka menggunakan ponds, sebelum mandi menyalakan televisi nonton berita sambil minum kopi kapal api atau teh sariwangi, puas menikmatinya pergi mandi menggunakan sabun citra dan sikat gigi Oral-B pasta giginya  Pepsodent. Tidak lupa, Anda menggunakan shampoo Clear untuk keramas rambut. Setelah mandi Anda menggunakan kaos Polo dan jeans Nevada, menggunakan parfum AXE, Anda siap berangkat dengan menggunakan motor Yamaha Jupiter. Batapa banyak proses yang kita lalui sehari-hari dengan ragam bentuk pemasaran.
Muncul pertanyan apa pemasaran itu? Kita bisa lihat definisi dari beberapa pakar tentang pemasaran.
1.       Pemasaran adalah proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan dan pertukuran produk dan nilai satu sama lain. (Kotler, 2000)
2.       Pemasaran adalah fungsi organisasi dan serangkaian proses menciptakan, mengkomunikasikan, dan menyampaikan nilai bagi para pelanggan, serta mengelola relasi pelanggan sedemikan rupa sehingga memberikan manfaat bagi organisasi dan para stakeholder-nya. (American Marketing Association, 2004)
3.       Pemasaran adalah serangkai aktifitas yang dilakukan perusahaan untuk menstimulasi permintaan atas produk atau jasanya dan memastikan bahwa produk dijual dan disampaikan kepada para pelanggan. (Venkatesh & Penaloza, 2006)
4.       Pemasaran adalah proses sosial yang mencakup aktivitas-aktivitas yang diperlukan untuk memungkinkan individu dan organisasi mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui pertukaran dengan pihak lain dan untuk mengembangkan relasi pertukaran berkesinambungan. (Mullins, Walker & Boyd)

Konsep Pemasaran
                Pada umumnya setiap perusahaan menganut salah satu konsep atau filosofis pemasaran, yaitu falsafah atau anggapan yang diyakini perusahaan sebagai dasar dari setiap kegiatannya dalam memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.
                Pemilihan dan penerapan konsep pemasaran tertentu dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya nilai-nilai dan visi manajemen, lingkungan internal, dan lingkungan eksternal perusahaan. Secara umum ada lima Konsep pemasaran yaitu:
1.       Konsep Produksi
Pemasaran yang berpegang pada konsep ini berorientasi pada proses produksi/operasi (internal). Asumsi yang diyakini adalah bahwa konsumen hanya akan membeli produk-produk yang murah dan gampang diperoleh.
2.       Konsep Produk
Dalam konsep ini, pemasaran beranggapan bahwa konsumen lebih menghendaki produk-produk yang memiliki kualitas, kinerja, fitur atau penampilan superior. Konsekuensinya, pencapaian tujuan bisnis perusahaan dilakukan melalui invoasi produk, riset, dan pengembangan, dan pengendalian kualitas secara berkesnimbungan.
3.       Konsep Penjualan
Konsep ini merupakan konsep yang berorientasi pada tingkat penjualan (internal), dimana pemasaran beranggapan bahwa konsumen harus dipengaruhi (bila perlu dibujuk) agar penjualan dapat meningkat, sehingga tercapai laba maksimum sebagaimana tujuan perusahaan. Focus kegiatan pemasaran memperbaiki teknik-teknik penjualan dan kegiatan promosi.
4.       Konsep Pemasaran
Berbeda dengan 3 konsep terdahulu yang berorientasi pada lingkungan internal, konsep pemasaran berorientasi pada pelanggan (lingkungan eksternal), dengan anggapan bahwa konsumen hanya akan bersedia membeli produk-produk yang mampu memenuhi kebutuhan dan keinginannya serta memberikan kepuasan. Implikasinya, fokus aktivitas pemasaran dalam rangka mewujudkan tujuan perusahaan adalah berusaha memuaskan pelanggan melalui pemahaman perilaku konsumen secara menyeluruh yang dijabarkan dalam kegiatan pemasaran yang mengintegrasikan kegiatan-kegiatan fungsional lainnya (seperti produk/ operasi, keuangan, personalia, riset dan pengembangan, dan lain-lain) secara lebih efektif dan efisien dibandingkan para pesaing.
5.       Konsep Pemasaran Sosial
Pemasaran yang menganut konsep ini beranggapan bahwa konsumen hanya bersedia membeli produk-produk yang mampu membuaskan kebutuhan dan keinginanya serta berkontribusi pada kesejahteraan lingkungan sosial konsumen.

Referensi : Fandy Tjitono, bayumedia/pemasaran Jasa/2011

Saturday, March 24, 2012

Agung Banggai: ONTOLOGI FILSAFAT ISLAM

Agung Banggai: ONTOLOGI FILSAFAT ISLAM: ONTOLOGI Pembahasan tentang ontologi berbicara mengenai eksistensi dari pengetahuan wujud, ontologi tidak berpengaruh dengan alam dia ter...

Agung Banggai: FILSAFAT AGAMA

Agung Banggai: FILSAFAT AGAMA: FILSAFAT AGAMA Realisme Instiktif Realisme Instiktif menghubungkan antara apa yang ada didalam diri kita dengan di luar harus bersesuai ...

Monday, March 12, 2012

ONTOLOGI FILSAFAT ISLAM


ONTOLOGI
Pembahasan tentang ontologi berbicara mengenai eksistensi dari pengetahuan wujud, ontologi tidak berpengaruh dengan alam dia terlepas dengan hubungan dengan alam dia mandiri. Yang merasakan ontologi adalah hati tapi tidak pungkiri bahwa hati selalu mengikat alam dia selalu terlena dengan alam, nah tujuan ontologi untuk membuat hati merasakan pengertian yang satu (wujud) dan tidak ada bandingannya.
Dalam ontologi kita tidak bisa membedakan ada yang baik buruk atau kebahagian dan kesedihan kita tidak tahu lagi semua itu yang sudah kita rasakan adalah satu. Ontologi ilmu tentang keberadaan dia bukan mencari yang satu atau mencari yang banyak tapi dia mencari hubungan antara yang banyak dan yang satu dan hubungan itu niscaya dalam epistemologi secara teoritis tidak terbantahkan bahwa kita tidak bisa terpisah dengan alam, hubungan yang hadir sebagai alam dan hadir sebagai imajinasi / persepsi, dan kemudian hadir sebagai persepsi itu akal yang mandiri dipandang sebagai suatu keberadaan.
Kebenaran dalam ontologi apa dicapai dalam persepsi kita secara mandiri, mandiri bukan dibentuk oleh apa yang dituntut kehendak kita. Bukan seperti yang kita rasakan di alam ibadah dan sebagainya hanya untuk Allah. Dia tidak berhubungan rasa suka tidak suka, dia hanya satu, keinginan juga tidak bisa karena keinginan karena Allah berarti ada yang tidak kita rasakan dasar seperti itu tidak bisa menjawab tentang Wahdatul Wujud.
Posisi R2 harus bisa menjelaskan hati yang satu itu, karena hati kita sekarang masih berhubungan dengan alam. Kita harus bisa melepaskan hati yang berhubungan dengan alam, dan mencari hati yang berhubungan dengan satu mandiri.
Sesuatu dan Wujud
Ada atau wujud adalah segala sesuatu yang kita temukan. Ada dulu baru kita bisa memberikan defini tentang sesuatu yang ada, Jadi segala semua ada karena ada sandaran. Tuhan dalam filsafat agama sesuatu, segala sesuatu, segala perkara, segala hal, segala tindakan, segala sebab dan akibat, segala gagasan dan acuan, segala angan-angan dan segala lainnya. Wujud adalah keberadaan dan konsep yang paling sederhana, apa yang paling sederhana selain ada, kesederhanaan di mencakup, mutlak karena tidak ada lain selain ada, kesederhanaan segala sesuatu kembali pada dia. Karena dia mencakup keseluruhnya maka dia mutlak “tidak ada lain selain dia”
Dalam bahasa arab sesuatu adalah syah, masyiah semua kembali dalam pengertian eksistensi kehendak diri, dari sederhana ke mutlak, mutlak ini ditemukan dalam diri manusia, karena yang pertama kali mencapai kemutlakan itu adalah subjek kita diri sendiri, prinsip pertama adalah menetapkan adanya yang mutlak, karena kalau di kehendak kita ini tidak ada kemutlakan, maka kita tidak mungkin menemukan sesuatu yang meyakinkan kita. Yang paling kita tuntut dalam kehendak kita adalah bersandar pada sesuatu yang menjamin apa yang menjadi keyakinan kita secara mutlak, itu yang di capai oleh akal kita menjadi dasar berpijak.
Semua bisa dicapai dalam struktur onotologi karena wujud bisa ditemukan dan dicapai oleh subjek kita. Tapi kita tidak bisa langsung memasukkan dalam hati kita karena hati dia langsung mengikat karena sudah langsung merasakan Ilmu Hudhuri kita meletakkan didalam diri kita bukan diluar.  Jadi sesuatu dan wujud adalah sesuatu yang sederhana dan sesuatu yang tidak bisa kita konsepsikan hanya sebagai sesuatu apa yang kita mau bilang kalau itu adalah sesuatu wujud adalah sesuatu yang tidak bisa kita capai tidak akan bisa kita ungkapkan kalau seperti itu.
Wujud dan Cahaya
Dalam pemikiran Islam, Wujud sering dikontraskan dengan mahiyyah. Wujud adalah realitas objektif, sedangkan mahiyyah adalah gagasan tentang realitas objektif partikular. Mahiyyah terbatas karena masih berhubungan dengan alam dia terbagi bagian per bagian sebagai ada, ada sebagai spidol, ada sebagai hp, ada sebagai leptop ada yang pratikular itu semua keberadaan adalah wujud mahiyah/batasan. Tuhan (wujud) dan Manusia tidak bisa di pisahkan tapi dibedakan, kalau konsep wujud sebagai dirinya satu kembali pada pengertian tunggal. Akal mengenal perbedaan bukan keterpisahan, makna keterpisahan bukan ketiadaan tapi hubungan, hubungan yang bernegasi, hp lawannya leptop dll, arti ketidak terpisahan itu disebut cahaya.
Cahaya yang mempunyai arti kebertingkatan, gradasi cahaya 1 waat dengan cahaya 100 waat kita bisa bedakan tapi tidak bisa dipisahakan, perbedaan itu tidak bisa dipisahkan dari keberadaan itu jadi, perbedaan itu karena kebertingkatan perbedaan. Kenapa berbeda bukan dari sisi adanya tapi karena ada batasan, definisnya, karakteristiknya itu dari dilihat dari esensinya maujud yang partikular hadirnya terbagi. Pengetahuan manusia tentang Tuhan itu secara esensi karena masih menemukan yang buka Tuhan, karena kalau wujud satu, sedangkan esensi di terurai terus.
Akan tetapi semua pengetahuan kita mendatangi esensi karena pengetahuan kita berhubungan dengan alam menangkap esensi atau batasannya, untuk itu pengetahuan itu bertingkat-tingkat untuk bisa sampai pada wujud untuk menangkap wujud pada dirinya sendiri dan cara pandangan wujud cara pandang keseluruhan. Karena pembahasan kita adalah ontologi maka dia ingin mengenali wujud sebagaimana wujud, karena itu mengenalinya bukan dalam esensinya  semua yang mengali dalam esensinya itu pasti bukan wujud, pasti bukan tuhan, kita hanya datang melalui sesuatu yang sebenrnya hanya pantulan dari diri kita karena wujud tidak punya batasan tidak punya esensi karena yang kita ketahui tidak ada dalam Tuhan.
Nah dengan esensi ini maka muncul konsep buruk buruk, baik, hitam, putih itu sesuatu yang noneksis (esensi) dia bisa eksis karena bersandar pada apa yang ada dialam ini ada sandarannya yaitu wujud, baik buruk itu kita kembalikan pada Tuhan karena baik dan buruk  itu ada dan itu bersandar dengan wujud. Arti buruk itu sebagai ketiadan itu dalam arti alam dia bisa eksis kalau dia menyerap dari sesuatu yang baik karena buruk itu tidak keluar dari wujud, tapi bahwa keburukan itu untuk bisa eksis tergantung pada keberadaannya karena itu buruk itu hal yang esensial dan kebaikan itu hal esensial.
Tuhan bisa melakukan sesuatu yang buruk pada alam karena semua dalam kekuasaan Allah. Tetapi pernyataan Allah bisa melakukan keburukan dalam pengertian kita, karena pengertian Allah tidak ada keburukan yang ada semua untuk menuju pada kesempurnaan. Kita contohkan dengan sebuah bayangan, bahwa tidak ada banyangan tanpa ada sumbernya, banyangan ini kita umpamankan adalah keburukan, sumbernya adalah cahaya, membuat adanya bayangan itu spidol (subjek). Dari ilustrasi ini kita bisa jelaskan bahwa yang mengatakan itu buruk adalah di subjek (manusia) dia yang membatasi sehingga muncul bayangan. Akar permasalahannya ada pada subjek, untuk itu subjek harus berpaling pada cahaya (wujud) bukan pada bayangan jadi keburukan itu hakikatnya adalah ketiadaan.
Seperti yang kita ketahui bersama wujud itu bersifat tunggal dan sederhana mencakup keseluruhan tidak terbatas, tak terhingga dia terus menerus tanpa henti. Semuanya harus ada tidak mungkin ini berakhir pada sesuatu yang tidak ada yang disebut kontingen, sesuatu yang tidak didahului oleh ketiadan dan tidak berakhir pada ketiadaan, ada dalam pengertian ada selamanya, dia yang awal dan dia yang akhir bukan pengertian pada ketiadaan, ada terus menerus terikat pada keberadaannya.
Ketunggalan dan Penampakan
Sesuatu pada dirinya sendiri tidak berganda dan tidak berbilang hanya ada Tuhan tidak dalam kebergandaan. Wujud sama dengan segala sesuatu ada hubungan identitas utuh dan sempurna. Kita harus bisa berpirkir secara esensi berhubungan dengan esensi berhubungan dengan tiada untuk itu esensi tidak bisa dijadikan sandaran. Maka kita harus bisa menyandarkan pada wujud (ada).
Karena semua yang kita gambarkan pasti bukan Tuhan dari nama, gambaran dll, Tuhan tidak bisa kita tunjuk waktu, dimana, kapan itu sebuah batasan karena Tuhan tidak bisa di apa yang dikatakan karena semua batasan adalah ketiadan. Tujuan untuk mempelajari ontologi untuk membuktikan posisi kita bahwa semau ini adalah ketiadaan dalam ontologi baik konsepsi maupun realitas.
Nanti kita akan menemukannya ketika kita mencari terus sampai nanti biarkan kita mengkonsepsi terus nanti sampai puncak dia akan menghapuskan konsep itu sendiri. Makna ketiadan sama dengan pengertian akal yang kita acu di alam, bukan seperti itu tapi ketiadan disini yang kita acu pertama dalam konsep itu ada.
Dalam pengertian ontologi bahwa ada (eksis) aku ingin dikenal maka dia menemukan dirinya, namun dalam pengertian epistemologi (esensi) aku ingin mengenal tapi tidak menemukan dirinya. Karena eksis satu sedangkan esensi itu banyak partikular dan apa hubungan dari yang satu dan banyak. Kita mencari esensi untuk menemukan eksis wujud dan meninggalkan yang esensi.
Dalam persepsi tanzih menyatakan ketakterbandingan-Nya dengan segala sesuatu. Dalam perspektif ini, Allah adalah wujud yang benar-benar tidak bisa dijangkau oelh semua mahluk-Nya dan berada jauh diluar pengalaman dan pemahaman manusia. Dengan demikian maka gugur teori penyaksian tentang wujud sebagai wujud akan tetapi ada yang bisa kita rasakan itu ada tasbih menyembahan, doa-doa, yang kita puji itu yang kita lakukan sebagai manusia melaksanakan syariat Allah. Untuk itu kita harus mencari hubungan antara keduanya tanzih dan tasbih adalah pengetahuan.
Hubungan Wujud dan Maujud (Hubungan Sebab dan Akibat atau Pencipta dan Ciptaan)
Wujud dikaitkan dengan yang satu sedangkan maujud adalah bagian perbagian banyak atau bisa kita jelaskan juga dengan wujud satu/ ketunggalan eksistensi sebab pencipta sedangkan maujud esensi akibat ciptaan. Dalam pemahaman umum kita diciptakan oleh Allah, secara esensi arti itu bisa diterima karena kita bisa membedakan antara yang membuat dan dibuat itu ada ajarak atau terpisah, tapi bagaimana secara eksistensi polpen ada, hp ada yang membuat juga ada secara ada tidak ada jarak karena tidak terpisah.
Karena tidak ada tidak bisa kita ada bagaimana bisa kita menciptakan sesuatu yang belum ada, tidak bisa kita acu untuk itu yang tidak ada tidak bisa menerima. Untuk itu bagaimana arti menciptakan mengadakan yang ada padahal sudah ada menciptakan esensi. Untuk itu mengadakan mengciptakan bukan konsep ketunggalan karena ketiadan tidak bisa diadakan bagaiman kita bisa mengadakan yang tidak ada. Kalau kita kembali pada konsep Tuhan apakah Tuhan diciptakan? Tentu tidak Tuhan bukan diciptakan karena Tuhan sudah ada.
Hubungan wujud tidak bisa dibatasi walaupun dengan istilah mencipta karena mencipta ada batasan karena mengadakan yang sebelum tidak ada. Mencipta adalah konsep yang diciptakan oleh manusia untuk menjelaskan hubungan antara wujud dan maujud. Bagaimana menjelaskannya salah satunya dengan mengatakan bahwa Tuhan itu pencipta. Tapi mencipta dalam diri sisi wujud tidak dimungkinkan karena ada dengan ada tidak ada jarak, dan kalau mencipta diartikan dengan mengadakan yang sebulumnya belum ada maka bertentangan dengan teori wujud. Maka yang mungkin bisa dijelaskan adalah bagaimana wujud itu di konsepsi atau dibentuk oleh manusia.

BUKU DARAS FILSAFAT ISLAM

 BUKU DARAS FILSAFAT ISLAM

Nilai Proposisi-Proposisi Etika dan Hukum
Pembahasan tentang etika dan hukum merupakan pembahasan yang sangat penting untuk menumbuhkan ketaatan dan kedamaian didunia posisinya berada diaksiologi dimana kalau diaksiologi ada acuan yang bisa di inderawi, karena dasar semua nilai berada pada Ontologi dasar konsep hukum konsep sehingga membutuhkan etika. Hukum itu afirmasi berbentuk tindakan/tahsdiq sedangkan etika dia negasi konsep bisa positif dan negatif juga.
Etika dan Hukum bisa kita dapatkan pertama melalui anjuran, perintah, dan larangan, kedua dalam bentuk berita dan proposisi-proposisi yang logika yang memilikit subjek dan predikat. Tujuan hukum untuk kedamaian masyarakat sosial sedangkan etika lebih pada kesempurnaan rohani lebih luas dari pad tujuan hukum.
Kriteria Benar Salah Dalam Proposisi-Proposisi Nilai
Benar dan salah bukan niscaya karena sesuatu itu bisa dimaafkan karena dia bersandar pada alam dan alam partikular bagian perbagian yang niscaya hanya ada pada ontologi. Kalau aksiologi di kita konsepsi dulu lalu kita bertindak. Seharusnya dalam tindakan hukum kita harus bisa merujuk pada etika, karena hukum tidak mempunyai konsep dan tidak bisa disalahkan dia selalu benar dalam arti hukum untuk menghukum etika yang membatasi hukum. Hukum membutuhkan etika kalau tidak ada etika jadinya seperti hukum di Insonesia ini.
Kita lihat di berita seorang nenek dihukum 6 bulan karena mencuri 3 buah kakao dan kita lihat juga bagaimana seorang koruptor miliyaran uang rakyat di hukum hanya 2 tahun saja. Betapa sangat berbeda sekali dari sisi etika tidak bisa kita terima, akan tetapi dalam posisi hukum itu yang tertulis dalam UU kita Indonesia tidak salah toh...
Tanggapan Atas Suatu Keberatan
Filsafat Etika membicarakan konsekuensi, premisnya bukan seperti hal-hal umum, kita contohkan jujur itu baik, akan tetapi bagaimana ketika kita jujur dengan konsenkuensi akan terjadi kematian bagi orang lain ketika kita jujur. Maka dengan ini bahwa tidak semua yang baik bisa kita amplikasikan di luar begitu juga dengan pengetahuan tidak bisa semua yang kita tau kita berikan pada orang lain karena bisa saja akan terjadi kesalahan dalam penafsiran dan lain-lain. Jadi etika tidak sampai pada konsepsi umum tapi dia pertikular dan tidak mempunyai hubungan konsekuensi akibat dan tindakan tersebut yang kita lakukan.
Relativitas Etika dan Hukum
Hukum mempunyai pengecualian di alam dan berbentuk afirmatif artinya sudah ada kesepakatan atau disetujui, bahkan baiknya kejujuran tidak berlaku universal. Hukum terbatas akan waktu, apabila lewat waktu maka gugur stu bentuk hukum tersebut diganti dengan betuk hukum yang baru.  
Perbedaan Antara Proposisi Etika dan Hukum
Perbedaan dari Etika dan Hukum sangat banyak sebagaimana kita bisa lihat diatas hukum lebih pada alam sedangkan etika lebih pada Tuhan. Untuk itu kita harus bisa bangun hukum dengan landasan etika yang kuat. Karena hukum tanpa etika tidak akan tercapai keadilan di alam ini.
Lanjut
Sebelum kita bahas lebih lanjut lagi bahas dulu apakah kebenaran itu, kebenaran adalah kesesuian antara ide dan realitas. Mencari kesesuai antara dalil etika dan dalil hukum kebenaran dalam kontenks pengetahuan.
Kebergantungan Filsafat pada Epistemologi
Dalam epistemologi persepsi butuh usaha dan kesadaran sudah ada dalam diri. Persepsi sama dengan konsep apa yang di inderawi, memperspsi, melihat alam dengan tujuan kembali mencari Tuhan mentashdiq. Konsep menghasilkan hubungan apa yang ada pada fitra kita dan apa yang ada pada objek. Tujuan epistemologi ingin menemukan bagaimana kita mempersepsi Tuhan sebagai konsep dasar untuk kembali pada Tuhan. Karena tidak mungkin kita bertindak tanpa membutuhkan konsep. Dalam filsafat kita harus banyak konsep itu poin penting yang perlu kita ketahui.
Kemungkinan Pengetahuan
Kemungkinan manusia mempunyai pengetahuan sangat mungkin, karena walaupun dia ragu akan pengetahuan tetapi dia tidak bisa ragu kalau dia memang ragu dengan pengetahuannya. Dengan begitu maka kita sudah dapat bentuk pengatahuan, sumber pengetahuan yang kita gunakan adalah indera dan rasio (akal) tapi rasio juga sebagai sumber dan alat juga.
Ilmu Hudhuri dan Hushuli
Pengetahuan hudhuri itu adalah pengetahuan yang langsung hadir dalam diri kita. Proses Hudhuri terbagi dua ada yang melalui konsep dan yang kita rasakan langsung. Melalui konsep kita yang pertama melihat seseorang itu baik dan setelah konsep kita sudah banyak tentang dia maka akan berubah ternyata dia tidak baik, sedangkan yang kita rasakan langsung kita memegang gelas panas maka akan langsung terasa panas di tangan kita.
Pengetahuan hudhuri tak mungkin keliru dia tidak bisa disalahkan juga karena itu fitra kita. Kita merasakan jatuh cinta, senang, sedih itu benar apa yang kita rasakan akan tetapi dalam aktulnya berbeda itu bukan lagi hudhuri lagi. Dalam Hudhuri ada gradasi pengetahuan kebertingkatan jiwa yang kita rasakan. Dan yang menentukan benar dan salah harus sesuai dengan ide dan realitas adalah Hushuli. Hushuli terbagi dua bagian tashdiq dan tashawur, tashdiq harus memiliki predikat sebuah predikat dan pasti mengacu di alam. tashdiq subjek berhubungan dengan predikat.

Tulisan ini tidak sempurna sebagaimana mestinya tapi mudah-mudahan bisa membantu... dan mohon kritikannya..